Angin malam kota Chang'an berbisik dingin, menusuk tulang hingga ke sumsum. Di teras istana yang remang diterangi lentera, aku berdiri. Jubah sutra merah marun yang dulu terasa hangat kini terasa berat, menghimpit sesak dadaku. Di bawah sana, di kejauhan, obor-obor menyala membentuk barisan panjang. Mereka mengawal keretanya pergi, menjauh, membawa bersamanya KENANGAN dan segala JANJI yang telah diucapkannya.
Lima tahun. Lima tahun aku mengabdikan diri di sisinya. Menjadi perisainya, penasihatnya, bahkan terkadang... kekasih rahasianya. Lima tahun aku percaya, bahwa di balik tatap mata setajam pedang itu, tersembunyi cinta yang tulus untukku. Lima tahun aku rela mengorbankan segalanya, kehormatan keluarga, ambisi pribadi, bahkan nyaris nyawaku, demi impiannya menjadi Kaisar.
Kini, ia telah duduk di singgasana. Dan aku? Aku ditinggalkan.
Mataku tertuju pada luka di dada kiriku. Luka yang diberikan oleh seorang pembunuh bayaran, yang dikirim untuknya. Aku melompat, melindungi tubuhnya dari tikaman beracun. Ia memelukku erat setelahnya, berjanji tak akan pernah melupakanku. "Nyawamu berharga bagiku, Mei Lan," bisiknya di telingaku, suara baritonnya bergetar.
Kebohongan. Semua itu bohong!
Luka ini... dulu aku memandangnya sebagai bukti cintanya. Sebuah tanda pengorbanan. Sekarang, aku hanya melihatnya sebagai KUTUKAN.
Kereta kencana itu semakin menjauh, nyaris tak terlihat di kegelapan malam. Di dalam sana, ia duduk di samping permaisuri barunya. Putri dari jenderal besar yang kekuatannya dibutuhkan untuk menstabilkan kerajaannya. Kekuatan. Selalu tentang kekuatan. Bukan cinta. Bukan kesetiaan. Hanya KEKUASAAN.
Air mata mengalir deras membasahi pipiku. Bukan air mata kesedihan. Bukan pula air mata penyesalan. Ini air mata KEMARAHAN.
Dulu, aku adalah orang yang memberinya ide untuk menjatuhkan musuh-musuhnya. Aku membantunya merancang strategi, memanipulasi aliansi, bahkan mengkhianati sahabat demi ambisinya. Aku adalah otaknya. Aku adalah bayangannya.
Sekarang... aku akan menjadi KEHANCURANNYA.
Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara malam yang dingin. Kekuatan baru mengalir dalam diriku. Kebencian. Dendam. Dua kata yang kini menjadi bahan bakar jiwaku.
Aku akan membangun kembali kejayaan keluargaku yang hancur karena kesetiaanku padanya. Aku akan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar dari yang bisa ia bayangkan. Aku akan membuatnya membayar atas setiap air mata yang kutumpahkan, atas setiap janji yang ia langgar, atas setiap mimpi yang ia hancurkan.
Malam ini, aku bukan lagi Mei Lan yang bodoh dan penuh cinta. Aku adalah Mei Lan yang baru. Mei Lan yang akan membuat Kaisar itu berlutut dan memohon ampun di kakiku.
Dan ketika saat itu tiba, aku akan tersenyum dan berkata, "Takdir yang menuntut keadilan, Kaisar. Bukan aku."
Cinta yang dulu kuberi, kini menjelma menjadi duri, yang akan kutancapkan perlahan namun pasti, hingga ia mati dalam penyesalan abadi—apakah itu keadilan, atau justru hanya cinta yang teracuni dendam?
You Might Also Like: Seru Cinta Yang Kuterima Sebagai Kutukan
Post a Comment