Cerpen Seru: Tatapan Yang Membakar Setiap Doa

Tatapan yang Membakar Setiap Doa

Lembah Bunga Persik, tempat kami dibesarkan, kini terasa seperti kuburan yang luas. Angin berbisik, bukan melodi masa kecil, melainkan desahan PERINGATAN. Dulu, Lin Wei dan aku, Mei Lan, adalah dua sisi koin yang sama. Kami tumbuh bersama, berlatih pedang di bawah bimbingan ayah, bermimpi tentang dunia yang akan kami taklukkan bersama. Lin Wei, dengan senyum menawannya, selalu menjadi matahari bagiku. Aku, Mei Lan, si bayangan yang setia.

Namun, matahari itu perlahan memudar.

"Mei Lan, kau tahu, takdir itu kejam," ucap Lin Wei suatu senja, tatapannya menatap lembah, bukan aku. "Ia memberikan harapan, lalu merenggutnya dengan kejam."

Aku tersenyum pahit. "Kau terdengar seperti penyair yang patah hati, Saudaraku."

"Bukan patah hati, Mei Lan. Lebih dari itu. Ini tentang keluarga, tentang kehormatan, tentang darah." Setiap kata diucapkannya seolah ditusukkan ke jantungku.

Misteri itu mulai menyelimuti kami seperti kabut tebal. Lin Wei semakin menjauh, sering menyelinap keluar istana pada malam hari. Aku mengikutinya, diam-diam, bayangan yang tak pernah ia duga akan mengkhianatinya. Aku melihatnya bertemu dengan pria berjubah hitam, mendengar percakapan lirih tentang warisan, tentang pengkhianatan, tentang pembunuhan.

Siapa yang dikhianati? Siapa yang dibunuh? Dan yang terpenting, siapa dalang di balik semua ini?

Kebenaran terungkap perlahan, seperti racun yang merayap dalam darah. Ayah, pahlawan di mata kami, ternyata menyimpan rahasia kelam. Ia bukan ayah kandung Lin Wei. Lin Wei adalah anak dari selir yang dibuang, pewaris sah tahta yang direnggut. Aku, Mei Lan, adalah anak kandungnya, putri yang dijanjikan untuk memerintah. Tapi, demi perdamaian, demi menjaga Lin Wei tetap hidup, aku harus berpura-pura. Berpura-pura bodoh. Berpura-pura bahagia. Berpura-pura mencintainya.

Pengkhianatan terburuk adalah kebenaran itu sendiri.

"Kau tahu, bukan?" Lin Wei bertanya, tatapannya sedingin es, malam sebelum pemberontakan. "Kau tahu semua ini, Mei Lan. Kau selalu tahu."

Aku tidak menjawab. Apa gunanya? Kata-kata hanya akan menodai kesunyian malam.

Pemberontakan berdarah terjadi di bawah cahaya bulan yang kejam. Pedang kami berdansa, bukan sebagai saudara, melainkan sebagai musuh. Setiap sabetan menyimpan amarah, setiap desahan menyimpan kesedihan. Lin Wei bertarung dengan kemarahan yang membabi buta, aku dengan tekad yang dingin.

Di akhir pertarungan, aku berdiri di atasnya, pedangku menempel di tenggorokannya. Tatapannya penuh kebencian, namun di dalamnya, aku melihat sedikit kekecewaan.

"Mengapa, Mei Lan?" bisiknya.

Aku tidak menjawab. Aku mengangkat pedangku.

Balas dendam adalah hidangan yang paling nikmat disajikan dengan dingin. Kebenaran adalah pedang bermata dua. Dan cinta... cinta adalah KEBOHONGAN terbesar dari semuanya.

Saat kegelapan merenggut kesadaranku, aku hanya bisa membisikkan, "Aku selalu mencintaimu, Lin Wei… bahkan saat aku membunuhmu..."

You Might Also Like: Jual Skincare Dengan Kandungan Alami

OlderNewest

Post a Comment