Saat Aku Tersenyum, Ia Tak Tahu Itu Pamit

**Saat Aku Tersenyum, Ia Tak Tahu Itu Pamit** Kabut pagi *menggantung* di atas Danau Bulan, serupa selendang sutra yang membungkus mimpi. Di tepiannya, berdiri aku, Jing Yue, menatap pantulan wajahmu, Li Wei, di permukaan air yang beriak lembut. Wajah yang kuukir dalam setiap denyut nadi, wajah yang menjadi melodi sunyi dalam jiwaku. Kau tersenyum, Li Wei. Senyum sehangat mentari yang menerobos celah awan, senyum yang melukis pelangi di hatiku yang kelabu. Tapi, tahukah kau, di balik senyumku yang membalas, tersimpan *PAMIT* abadi? Setiap langkah yang kita lalui di bawah payung bunga sakura yang berguguran adalah lukisan di atas kanvas waktu yang memudar. Aroma teh melati yang kita hirup bersama adalah senandung perpisahan yang tak terucap. Setiap tatapan mata yang kita curi adalah bintang jatuh yang menerangi malam terakhir. Kau menggenggam tanganku, Li Wei. Genggaman yang terasa nyata, namun *TERASA* pula seperti ilusi yang akan sirna begitu fajar menyingsing. Kita menari di tengah badai kembang api yang memekakkan telinga, tapi aku hanya mendengar *keheningan*. Apakah ini nyata, Li Wei? Ataukah hanya bunga tidur di musim semi hatiku? Apakah kau benar-benar ada, atau sekadar bayangan dari masa lalu yang tak pernah kumiliki? Pertanyaan itu terus menari di benakku, berputar seperti daun yang jatuh dari pohon rindang. Aku ingat hari itu. Di bawah langit senja yang berdarah, kau berjanji akan kembali. Janji yang kuukir di atas batu nisan hatiku. Namun, waktu terus berlalu, musim berganti, dan kau tak pernah menepati janji itu. Bertahun-tahun kemudian, di sebuah galeri seni yang remang-remang, aku menemukan sebuah lukisan. Lukisan seorang wanita yang *PERSIS* sepertiku, tengah tersenyum ke arah seorang pria yang wajahnya tertutup bayangan. Di bawah lukisan itu tertera sebuah judul: "Senyum Jing Yue, Pamit Abadi Li Wei." *Misteri terpecahkan.* Li Wei, kau adalah pelukisnya. Kau melukis kisah kita, kisah cinta yang hanya ada di dalam kanvas. Dan di balik senyumku dalam lukisan itu, tersimpan surat terakhirmu: "Aku melukismu, Jing Yue, agar kau selalu abadi. Tapi, aku *harus* pergi, karena aku tidak nyata." Dan kemudian, aku mengerti. Cinta kita memang ilusi. Sebuah ilusi yang begitu indah hingga membuatku *lupa* bahwa aku sedang bermimpi. Luka menganga lebar, *sedalam* Danau Bulan yang menyimpan rahasia. *Apakah kau masih ingat aku, Jing Yue?*
You Might Also Like: 108 Coldplay Music Spheres World Tour

OlderNewest

Post a Comment