Baik, ini dia draf kisah modern *Dracin* berjudul "Ratu itu memandang laut, berharap gelombang bisa menghapus masa lalunya": **Ratu itu memandang laut, berharap gelombang bisa menghapus masa lalunya.** Hujan kota membasahi layar ponselnya, sama basahnya dengan matanya. Di *STARBUCKS* sudut kota, aroma kopi pahit berpadu dengan sisa notifikasi yang tak pernah berhenti berdering. Namun, hatinya sunyi. Sepi yang menggema lebih keras dari *ringtone* apapun. Dia, Aurora, dijuluki 'Ratu' bukan karena tahta kerajaan, melainkan karena aura dingin yang melingkupinya. Aura yang terbentuk setelah kepergiannya, Adrian. Kepergian tanpa kata, tanpa penjelasan. Hanya jejak digital yang tersisa: foto-foto kenangan yang mendadak terasa seperti mimpi buruk, lagu-lagu favorit yang kini menyayat hati, dan *chat* yang tak terkirim. Rangkaian kata yang ingin menjerit, bertanya, **MENGAPA?** Aurora mengusap layar ponsel. Ada *screenshot* percakapan mereka. Adrian, dengan semua rayuan gombalnya, janji-janji manisnya. Setiap kata kini terasa seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk. "Aku akan kembali, Aurora. Tunggu aku," tulisnya di *chat* terakhir, tiga tahun lalu. Tiga tahun Aurora menunggu. Menanti sinyal, petunjuk, apapun. Laut yang membentang di depannya seolah mencemooh penantiannya. Gelombang demi gelombang menyapu pasir, tapi tidak satupun yang membawa kabar dari Adrian. Kemudian, muncul Maria. Maria, dengan senyum manis dan mata yang menyimpan rahasia. Mereka bertemu di sebuah *workshop* fotografi. Maria memotret laut, Aurora memotret Maria. Di antara kilatan *flash* dan obrolan ringan, Aurora merasakan sesuatu yang aneh. Keakraban yang terlalu instan, tatapan yang terlalu dalam. Maria tahu tentang Adrian. Dia tahu tentang janji-janji itu, tentang kepergian itu. Bagaimana bisa? Suatu malam, setelah berjam-jam mengamati laut yang bergelora, Maria mengaku. Dia adalah adik Adrian. Dia menyimpan surat yang Adrian titipkan sebelum pergi. Surat yang tak pernah sampai ke tangan Aurora. Isi surat itu? Bukan permintaan maaf, bukan penjelasan. Melainkan *PENGAKUAN*. Adrian telah menikah dengan wanita lain, karena dijodohkan oleh keluarganya. Ia tak punya keberanian untuk menghadapi Aurora. Amarah Aurora mendidih. Selama ini, dia memeluk ilusi, menumbuhkan harapan di atas tanah yang gersang. Adrian telah merampas kebahagiaannya, mencuri masa depannya. Tapi, Aurora bukan wanita yang akan meratap. Dia *RATU*. Dia akan membalas dendam. Dia membalasnya dengan keanggunan. Aurora mengundang Maria ke sebuah restoran mewah di tepi pantai. Mereka makan malam dengan tenang, berbagi cerita, tertawa seperti teman lama. Setelah hidangan penutup, Aurora mengeluarkan ponselnya. "Ada yang ingin kutunjukkan padamu, Maria," ucapnya, dengan senyum tipis yang misterius. Di layar ponsel, tertera sebuah foto. Foto Adrian sedang berselingkuh dengan seorang wanita di sebuah bar kumuh di kota seberang. Foto itu dikirimkan oleh seorang teman yang secara kebetulan bertemu Adrian. "Aku yakin kau akan sangat tertarik dengan ini. Salam untuk keluargamu," bisik Aurora, menyerahkan *flash drive* berisi semua bukti perselingkuhan Adrian kepada Maria. Aurora berdiri, memandang laut sekali lagi. Gelombang tetap berdebur, tanpa peduli. Dia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang akhirnya membebaskannya. Dia meninggalkan restoran itu, tanpa menoleh ke belakang. Di *chat* Adrian, dia mengirimkan pesan terakhir: "*Game over, Adrian.*" Aurora melangkah menjauh, meninggalkan aroma kopi dan sisa-sisa masa lalu. Laut terus memanggil, namun hatinya telah tenang. Ia tidak lagi mencari jawaban di ombak, tetapi di cakrawala. Dan Maria, ditinggalkan dengan rahasia baru, dan realitas yang lebih pahit, hanya bisa berharap ia tidak menodai seluruh hidupnya dengan...
You Might Also Like: Manfaat Moisturizer Gel Dengan

Post a Comment