Di antara kabut ungu dan bayangan gerbang kota terlarang, bersemayamlah kisah terlarang. Bunga teratai putih mekar di kolam bulan, memantulkan wajah Li Wei, putri kaisar yang terkutuk cintanya. Matanya, danau zamrud yang menyimpan rahasia dinasti yang runtuh, memandang lukisan seorang pemuda gagah berani, Jenderal Zhao Yun.
Jenderal Zhao Yun, pahlawan dari negeri tetangga yang kini jadi tawanan. Di dalam lukisan itu, senyumnya bagai mentari pagi yang menembus awan kelabu. Li Wei jatuh cinta pada bayangan, pada jiwa yang terperangkap dalam kanvas. Cinta ini, layaknya kupu-kupu yang terbang di tengah badai salju, rapuh dan mustahil.
Setiap malam, Li Wei menyelinap ke ruang bawah tanah istana, tempat lukisan itu tersimpan. Di sana, di antara debu dan hening, ia bercerita pada Zhao Yun tentang mimpinya, tentang kerajaan yang damai, tentang cinta yang bebas dari belenggu.
Namun, di balik cadar bulan, tersembunyi sebuah rencana keji. Ayah Li Wei, Kaisar yang haus darah, menggunakan lukisan Zhao Yun sebagai umpan. Dendamnya membara, ingin menghancurkan Zhao Yun secara perlahan, menghancurkan harapan terakhir dari kerajaan musuh.
Li Wei, terperangkap dalam jaring kebohongan, dipaksa menikahi seorang pangeran tua yang kejam. Malam pernikahannya, ia menggenggam pisau belati, bertekad untuk mengakhiri segalanya, agar cintanya pada Zhao Yun tetap abadi.
Saat pedang diangkat tinggi, sebuah suara memecah kesunyian. Bukan suara manusia, melainkan bisikan angin yang membawa misteri masa lalu. Bayangan Zhao Yun keluar dari lukisan! Ya, Jenderal itu hidup, terperangkap dalam dimensi lain, dan lukisan itu adalah portalnya.
Namun, KEBENARAN yang terungkap sungguh MENGERIKAN. Zhao Yun bukanlah pahlawan, melainkan mata-mata yang dikirim untuk menghancurkan kerajaan Li Wei. Lukisan itu adalah alat untuk memanipulasi Li Wei, untuk mengorek informasi rahasia. Cinta Li Wei, SELURUHNYA adalah KEPASTIAN PALSU.
Hati Li Wei hancur berkeping-keping, lebih sakit daripada ribuan pedang yang menusuk tubuhnya. Ia terjatuh, air mata membasahi lantai marmer dingin. Zhao Yun mendekat, bukan untuk menghibur, melainkan untuk merayakan kemenangan.
"Cinta itu memang pura-pura mati, Putri. Agar dendam bisa hidup abadi..." bisik Zhao Yun, sebelum kembali ke dimensinya.
Dan kemudian, sunyi.
Di antara sisa-sisa lukisan yang robek, tercium aroma bunga teratai putih yang layu, berbisik: Apakah ini semua... hanya mimpi?
You Might Also Like: Jual Skincare Non Komedogenik Untuk
Post a Comment