Drama Abiss! Ratu Itu Menulis Surat Cinta, Tapi Mengirimkannya Bersama Racun.

Ratu Itu Menulis Surat Cinta, Tapi Mengirimkannya Bersama Racun.

Angin musim gugur menyapu Istana Giok, membawa aroma krisan dan kepedihan. Di paviliun terpencil, Ratu Lian, wajahnya pucat bagai porselen, duduk menulis di atas sutra merah. Jari-jarinya yang lentik menari di atas kuas, menciptakan bait-bait cinta yang memabukkan. Tapi tinta itu dicampur racun mematikan.

Di masa kecil, Lian dan Mei adalah bayangan satu sama lain. Saudara seperguruan di Lembah Bulan Sabit, mereka berbagi mimpi, rahasia, bahkan janji setia di bawah pohon sakura yang mekar sempurna. Lian yang cerdas dan berani, Mei yang anggun dan setia – kombinasi sempurna, pikir mereka dulu. Sekarang, Lian adalah ratu yang terkurung di istana emas, sementara Mei adalah Jenderal Agung yang mengawal perbatasan.

"Saudari," bisik Lian pada bayangannya di danau. "Apakah kau masih ingat janji kita? Bahwa kita akan saling melindungi, selalu?"

Surat itu ditujukan untuk Kaisar Xuan, pria yang dicintai dan dibencinya dengan intensitas yang sama. Pernikahan mereka adalah aliansi politik, permadani indah yang menutupi intrik dan pengkhianatan. Lian tahu, suaminya menyimpan rahasia kelam, sebuah konspirasi yang mengancam seluruh kerajaannya. Dan Mei… Mei terlibat di dalamnya.

"Yang Mulia," suara Mei memecah keheningan malam saat dia muncul di paviliun. "Saya datang membawa kabar dari perbatasan."

Mata mereka bertemu. Dulu, mata itu penuh kehangatan dan pengertian. Sekarang, hanya ada kecurigaan dan kesedihan yang tersembunyi di balik tatapan dingin.

"Kabar yang kau bawa selalu penting, Jenderal Mei," jawab Lian, suaranya bagai belati berselubung sutra. "Katakan padaku, apa lagi yang harus aku ketahui tentang kesetiaanmu?"

Mei terdiam sesaat. "Kesetiaan saya hanya untuk kerajaan, Yang Mulia."

"Kerajaan? Atau Kaisar?" Lian menyeringai pahit. "Kau selalu pintar berbohong, Mei. Tapi aku tahu kebenarannya. Rahasia yang kita kubur di bawah pohon sakura itu… akhirnya terungkap."

Malam itu, Lian mengungkapkan segalanya. Dia tahu bahwa Mei adalah anak haram mendiang Kaisar, pewaris sah tahta yang disingkirkan demi Xuan. Mei bersekongkol dengan Xuan untuk merebut kekuasaan, mengorbankan cintanya pada Lian demi ambisinya.

"Kau mengkhianatiku, Mei," bisik Lian, air mata mengalir di pipinya. "Kau mengkhianati kita."

Mei tidak menyangkal. Wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam, tapi matanya tetap dingin dan kalkulatif. "Saya melakukan apa yang harus saya lakukan, Lian. Demi kerajaan."

"Kerajaan yang kau bangun di atas kebohongan?"

Surat cinta beracun itu dikirim. Kaisar Xuan membacanya, tertawa, dan kemudian, ambruk ke tanah, mulutnya berbusa. Di saat-saat terakhirnya, dia menyadari bahwa cinta Lian padanya sama mematikannya dengan dendamnya.

Kematian Kaisar mengguncang kerajaan. Mei, sebagai Jenderal Agung, mengambil alih kendali. Tapi Lian sudah menanam benih keraguan di hati para bangsawan. Mereka melihat pengkhianatan Mei, ambisinya yang tak terbatas, dan mulai bertanya-tanya.

Puncak dari segalanya terjadi di upacara penobatan Mei. Saat dia mengangkat mahkota, Lian muncul, pucat tapi anggun, di tengah kerumunan. Di tangannya, dia memegang pedang pusaka, berkilauan di bawah cahaya obor.

"Kau tidak layak, Mei!" teriak Lian, suaranya bergema di seluruh aula. "Kau merebut tahta dengan darah dan pengkhianatan. Hari ini, aku akan mengambilnya kembali."

Pertarungan sengit terjadi. Lian, meskipun lemah karena racun yang diminumnya, bertarung dengan keberanian singa betina. Mei, terkejut dan marah, membalas dengan brutal. Pedang mereka beradu, menciptakan simfoni kematian dan dendam.

Pada akhirnya, Lian menang. Dia menusuk Mei tepat di jantung. Saat Mei ambruk ke tanah, matanya bertemu dengan mata Lian. Ada penyesalan di sana, tapi juga… cinta?

"Aku selalu mencintaimu, Lian," bisik Mei, darah membasahi bibirnya. "Tapi… aku lebih mencintai… kekuasaan…"

Lian menatap tubuh Mei, kosong. Dendamnya terbalaskan, tapi hatinya hancur. Dia telah membunuh orang yang paling dicintainya, sahabatnya, saudara perempuannya.

Dia berbalik, menatap kerumunan yang terdiam. "Aku… aku…"

Lian terjatuh, pedang terlepas dari tangannya. Racun itu akhirnya mengklaim nyawanya. Sebelum kegelapan menelannya sepenuhnya, dia membisikkan satu kalimat terakhir, pengakuan yang akan menghantui kerajaan selama bertahun-tahun:

"Mungkin… mungkin aku lebih mencintai balas dendam daripada diriku sendiri…"

You Might Also Like: 188 Unraveling Enigma Of Case Of Red

Post a Comment