Pelukan yang Mengantar ke Akhir
Angin malam berbisik lirih, mengusap wajah Bai Lian dengan dingin yang menusuk tulang. Cahaya bulan pucat menari di danau teratai, memantulkan sosoknya yang berdiri tegak di tepi dermaga. Jubah sutra putihnya berkibar, bagai sayap burung bangau yang patah. Ia tahu mereka ada di sana, di paviliun seberang danau, tertawa bersama, saling bertukar janji yang dulu pernah diucap untuknya.
Dulu. Kata itu berdengung di kepalanya seperti mantra yang memilukan. Dulu, bibir itu hanya mengecup keningnya. Dulu, tangan itu hanya menggenggam tangannya. Dulu, mata itu hanya menatapnya dengan cinta. Sekarang? Cinta itu bersemi untuk orang lain.
Bai Lian memejamkan mata. Tidak ada amarah yang membakar. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya kehampaan. Kehampaan yang begitu dalam, hingga ia merasa jiwanya pun ikut lenyap ditelannya. Orang-orang mengira ia lemah, menyerah pada takdir. Mereka salah. Bai Lian menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemarahan: RAHASIA.
Rahasia itu terpatri dalam dadanya, sebuah janji yang diucapkannya pada mendiang ayahnya. Sebuah janji yang mengharuskannya melindungi keluarga kerajaan, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.
Ia ingat malam itu, malam ketika ayahnya, sang Perdana Menteri yang setia, menghembuskan napas terakhir di pangkuannya. Ayahnya berbisik, "Jangan percaya pada siapa pun, Lian'er. Mereka semua menginginkan Tahta Naga."
Dan sekarang, ia tahu siapa "mereka" itu. Calon suaminya, Pangeran Zhao Yunlan, dan sahabatnya, Mei Lin. Keduanya bersekongkol untuk menjatuhkan kaisar yang lemah, yang tak lain adalah kakak Bai Lian. Mereka menggunakan Bai Lian sebagai pion, mendekatinya untuk mendapatkan informasi tentang kekuatan militer keluarga Bai.
Ironis. Mereka mengira ia bodoh. Mereka mengira ia tidak tahu apa-apa. Padahal, ia sudah lama memasang jebakan. Jebakan yang tak terlihat, namun mematikan.
Beberapa hari kemudian, upacara pernikahan Pangeran Zhao Yunlan dan Mei Lin diadakan dengan meriah. Bai Lian hadir, mengenakan gaun phoenix berwarna merah darah, warna yang melambangkan keberanian dan… balas dendam. Ia tersenyum, senyum yang membuat bulu kuduk para hadirin merinding.
Di tengah pesta, Bai Lian maju ke depan, mengangkat cawan anggur. "Untuk kebahagiaan kalian berdua," ucapnya, suaranya bergetar lembut. Ia menyerahkan cawan itu kepada Zhao Yunlan.
Zhao Yunlan menerimanya dengan senyum kemenangan. Ia tidak tahu, anggur itu telah dicampur dengan ramuan yang hanya diketahui Bai Lian. Ramuan yang tidak membunuh, tapi… mengubah.
Malam itu, badai besar melanda ibukota. Keesokan paginya, Pangeran Zhao Yunlan dinyatakan menghilang. Beberapa hari kemudian, ditemukan mayat seorang pria yang wajahnya hancur tak dikenali di dasar danau teratai. Tidak ada yang tahu siapa dia.
Mei Lin, dilanda kesedihan dan kebingungan, menjadi gila. Ia mengigau tentang konspirasi, tentang pengkhianatan, tentang Bai Lian. Namun, tidak ada yang percaya padanya. Ia dikurung di kuil terpencil, dilupakan oleh dunia.
Bai Lian kembali ke kehidupannya yang tenang. Ia terus melindungi kakaknya, sang kaisar, dari ancaman yang tersembunyi. Ia tahu, kebahagiaan tidak akan pernah menjadi miliknya. Tetapi, ia telah melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia telah membalas dendam, tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah. Hanya takdir yang berbalik arah, dengan pahit namun indah.
Suatu malam, Bai Lian berdiri kembali di tepi danau teratai. Ia merasakan pelukan hangat menyelimutinya dari belakang. Pelukan yang familiar, pelukan yang begitu dirindukannya.
"Lian'er…" bisik sebuah suara di telinganya. Suara itu… Suara Zhao Yunlan.
Bai Lian berbalik perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria yang wajahnya nyaris sama dengan Zhao Yunlan, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang gelap, sesuatu yang… binatang.
"Aku sudah kembali," bisik pria itu, matanya berkilat liar. "Dan aku akan membawamu bersamaku… ke tempat yang seharusnya menjadi milik kita."
Bai Lian tersenyum pahit. Ternyata, ramuan itu bukan hanya mengubah wujud Zhao Yunlan, tapi juga… JIWANYA. Balas dendamnya telah berbalik, menciptakan monster yang akan menghantuinya selamanya.
Lalu, ke mana monster itu akan membawanya?
You Might Also Like: Kelebihan Sunscreen Lokal Dengan
Post a Comment