**Kau Menulis Surat Padaku, Tapi Membakarnya Sebelum Kukenal Tintanya** Di tengah gemerlap lampu kota Shanghai yang tak pernah tidur, berdirilah aku, Lin Mei, seorang wanita dengan aura anggun yang nyaris menipu. Gaun sutra merah membara menari mengikuti langkahku, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam hati. Dulu, hati ini pernah menjadi taman bunga yang subur, ditanami benih-benih cinta oleh seorang pria bernama Jian. Ah, Jian. Namanya dulu seperti *melodi indah* di telingaku, sekarang hanya gema pahit dari masa lalu yang kubenci. Semuanya dimulai dengan surat. Surat-surat cinta yang dikirimkannya setiap hari, kalimat-kalimat puitis yang melukiskan diriku sebagai bidadari. "Lin Mei, senyummu bagaikan mentari pagi, menghangatkan jiwaku yang beku," tulisnya. Aku terbuai, *terlena*. Aku jatuh cinta, *terjerat*. Namun, surat itu... surat terakhir. Aku tak pernah membacanya. Aku menemukannya di perapian, terbakar separuh, menyisakan abu yang dingin dan bau hangus yang menusuk hidung. Di saat yang sama, aku juga menemukan Jian, berpelukan mesra dengan seorang wanita lain, pewaris keluarga terpandang yang jauh lebih kaya dariku. *DUNIAKU RUNTUH*. Senyumnya – senyum yang dulu kurasa begitu tulus – kini terasa seperti **penipu**. Pelukannya – yang dulu kurindukan – sekarang terasa seperti **racun** yang membunuhku perlahan. Janji-janjinya – tentang masa depan kami, tentang cinta abadi – berubah menjadi **belati** yang menghunus jantungku. Aku tidak menangis. Air mata adalah kemewahan yang tak pantas untuknya. Aku tidak berteriak. Amarah adalah energi yang lebih baik digunakan untuk sesuatu yang lebih berharga. Aku hanya berbalik, meninggalkan apartemen kami, meninggalkan Jian, meninggalkan semua kenangan yang pernah kami bagi. Aku membangun tembok di sekeliling hatiku, tembok yang terbuat dari es dan baja. Aku fokus pada karierku, menanjak ke puncak dunia bisnis dengan tekad yang membara. Aku menjadi lebih kuat, lebih sukses, lebih **dingin**. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan kami kembali. Jian, yang telah menikahi pewaris itu, kini berada di ambang kebangkrutan. Perusahaan keluarganya terlilit hutang, dan hanya aku yang bisa menyelamatkannya. Aku tersenyum. Senyum yang *tipis* dan *mematikan*. Aku mengulurkan tangan, menawarkan pinjaman dengan syarat yang tidak mungkin ditolak. Jian, dengan raut putus asa di wajahnya, menyetujui. Aku melihatnya hancur di depan mataku, kehilangan segalanya – kekayaan, status, bahkan harga dirinya. Aku tidak membunuhnya dengan darah, tetapi dengan **penyesalan abadi**. Setiap kali dia melihatku, dia akan diingatkan akan kebodohannya, akan cintanya yang dibuang, akan kesempatan yang hilang. Di pesta perayaan kesuksesanku, aku melihat Jian berdiri di sudut ruangan, tatapannya kosong. Dia mendekatiku, bibirnya bergetar. "Lin Mei..." bisiknya, suaranya serak. Aku hanya mengangkat gelas sampanyeku, menatapnya dengan dingin. "Jian," balasku, suaraku sedingin es. "Kau menulis surat padaku, tapi membakarnya sebelum kukenal tintanya. Sekarang, nikmatilah abunya." Aku berbalik dan meninggalkannya berdiri di sana, tenggelam dalam penyesalannya. Aku tahu, *aku tahu* bahwa dendam ini tidak akan membawa kedamaian bagiku. Tetapi... melihatnya menderita sedikit mengurangi rasa sakit yang pernah kurasakan. Aku melangkah keluar dari pesta, menatap langit malam Shanghai yang bertabur bintang. Cinta dan dendam… **lahir dari tempat yang sama**.
You Might Also Like: 145 203 Cuba Che Guevara 2 Stock Photos

Post a Comment