Cerpen Keren: Mahkota Yang Berdiri Di Atas Luka

## Mahkota yang Berdiri di Atas Luka Senja mewarnai langit Kekaisaran Ming dengan gradasi oranye dan lembayung. Putri Lian, dengan gaun sutra selembut kabut dan hiasan kepala yang berkilauan, berdiri anggun di balkon istananya. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga plum yang menenangkan, namun tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. *Senyumnya*, yang biasanya secerah mentari pagi, kini hanyalah topeng yang nyaris sempurna. Lima tahun lalu, di bawah pohon persik yang bermekaran, Pangeran Rui berjanji akan mencintainya *selamanya*. Tatapannya yang teduh, seperti danau di musim semi, membuatnya percaya bahwa ia telah menemukan belahan jiwanya. *Pelukannya*, yang dulu terasa sehangat mentari, kini terasa seperti *belitan ular berbisa*. Kebenaran terungkap seperti luka menganga. Pangeran Rui, yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai Kaisar, telah menjalin hubungan terlarang dengan Selir Mei, wanita yang licik dengan kecantikan memabukkan. Bukan hanya itu, Selir Mei mengandung anaknya. Luka Putri Lian bagai *sembilan belas lapis neraka*. Pengkhianatan itu menorehkan bekas yang lebih dalam dari pedang. Namun, di hadapan istana yang riuh, di hadapan para dayang yang berbisik-bisik, ia tetap tegak. Ia tidak akan memberikan mereka kepuasan melihat air matanya. Ia akan membiarkan elegansi dan ketenangannya menjadi senjata pamungkasnya. Ia menghadiri upacara penobatan Pangeran Rui sebagai Kaisar. Ia menatapnya dengan tatapan yang kosong, seolah melihat orang asing. Ia bahkan menghadiahkan Selir Mei kalung giok terindah dari perbendaharaannya, sambil tersenyum simpul. Bulan-bulan berlalu. Kaisar Rui memerintah dengan tangan besi, namun kebahagiaannya tak pernah utuh. Ia dihantui bayangan Putri Lian, tatapannya yang kosong, senyumnya yang dingin. Selir Mei, yang kini bergelar Permaisuri, hidup dalam ketakutan. Setiap kali ia bercermin, ia melihat bayangan Putri Lian, bayangan wanita yang ia rebut kebahagiaannya. Putri Lian, sebaliknya, hidup dengan tenang di istananya. Ia tekun belajar seni, memainkan guzheng, dan melukis pemandangan yang indah. Ia menjadi wanita yang semakin dihormati dan dikagumi. Suatu malam, Kaisar Rui menemuinya di istananya. Wajahnya pucat, matanya memohon. "Lian, maafkan aku," bisiknya. "Aku... aku menyesal." Putri Lian menatapnya tanpa ekspresi. "Penyesalanmu tidak akan mengembalikan apa yang telah kau ambil, Rui. Tapi, ketahuilah, mahkota yang kini kau kenakan, *berdiri di atas luka*." Balas dendamnya bukan dengan darah, bukan dengan intrik. Balas dendamnya adalah *penyesalan abadi* yang akan menghantuinya seumur hidup. Kaisar Rui akan memerintah kekaisaran yang luas, tetapi hatinya akan selalu kosong, diisi oleh penyesalan dan bayangan wanita yang pernah ia cintai. Putri Lian menoleh, memandang ke arah taman yang disinari rembulan. "Pergilah, Rui," ucapnya dingin. Kaisar Rui berbalik, berjalan menjauh dengan langkah gontai. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Cinta dan dendam… lahir dari tempat yang sama.
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Membunuh Burung

Post a Comment